- Software Kamus Indonesia-Inggris, Inggris-Indonesia dan 60 bahasa lainnya
- Pesan hujan pada angin di Preanger
- 10 Hacker Terbaik Dunia
- Pembelajaran Berbasis TIK - Sebuah Realita
- pengalaman workshop...
- Aku Ingin Dibaca
- Pilar pendidikan anak
- 10 tips mengoptimalkan kinerja komputer
- Adult Site Filtering
- Pembelajaran di SMA KOSGORO Kuningan Berbasis TIK
PERLUKAH BIAYA BESAR UNTUK MEMBANGUN SMA BERBASIS ICT ?

Memang sangat relatif. Infrastruktur untuk kegiatan tersebut sudah lama disediakan. Mulai satuan pendidikan setingkat Taman Kanak Kanak sampai setingkat SMA, telah memiliki komputer. Di beberapa Kabupaten/Kota mempunyai jaringan wireless yang menjaring sistem komputer sekolah-sekolah se kabupaten/kota. Masalahannya hanya seputar optimalisasi dan luasnya cakupan. Kalau konten (isi) semua infrastruktur tersebut diupayakan dengan maksimal, serta cakupan penggunanya diperluas.
Untuk konten sumber belajar, guru-guru perlu diberi kepercayaan untuk membuat sendiri bahan ajarnya. Selanjutnya dalam setiap paket pembelajaran, diberi kesempatan dan dipacu menggunakan fasilitas multimedia yang dimiliki oleh satuan pendidikannya.
Dua tahun terakhir, mayoritas guru SMA dari berbagai mata pelajaran telah dilatih membuat bahan belajar berbasis multimedia pada level nasional. Hasilnya cukup banyak dan layak digunakan untuk pembelajaran beberapa Kompetensi Dasar. Penguasaan software juga rata-rata cukup baik. Dari program pembuat presentasi yang sederhana, banyak guru yang bahkan bisa memproduksi bahan ajar untuk aplikasi pembelajaran mandiri bagi siswanya.
Forum MGMP juga sangat berperan dalam sosialisasi penggunaan bahan ajar berbasis multimedia. Pelatihan pada level kabupaten dan propinsi beberapa kali dilaksanakan meski secara terbatas. Perkembangan ini sepintas amatlah membanggakan. Setidak-tidaknya dengan penguasaan software yang masih terbatas, guru-guru sudah mau mengubah paradigma dalam proses pembelajarannya. Dalam mencari informasi, guru-guru mulai menggunakan internet dan berbagai software pencari informasi. Lebih penting lagi, mampu mengubah pola belajar siswa. Dan ternyata siswapun sangat menikmati proses pembelajaran ketika menggunakan komputer multimedia, menggunakan e-book, presentasi visual maupun belajar secara online.
Agaknya fenomena baru tersebut perlu dicermati. Perlu tambahan dukungan proses deseminasi yang lebih cepat, luas dan mengena. Perlu wadah khusus yang bisa mengorganisir proses produksi maupun pendistribusiannya. Meski mudah dan bebas membuatnya, bahan ajar berbasis multimedia tetap memiliki acuan dalam teknis pembuatannya, khususnya menyangkut kesesuaian dengan kurikulum. Dengan adanya reduksi pada beberapa isi kurikulum KTSP, bahan ajar yang dibuat harus up to date, sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang berlaku.
Religeluth (Wilson 1997) menyebutkan bahwa : “Berkesan tidaknya media pembelajaran berbasis multimedia tergantung pada kualitias kontennya”. Maka, yang perlu ditingkatkan saat ini adalah penguasaan software dan kemampuan produksi, agar aplikasi yang dihasilkan bisa sempurna dan sesuai dengan orientasinya. Adapun untuk pilihan materi yang disajikan, guru-guru bisa memilih dan menganalisis berdasarkan Silabus Pembelajaran yang ada.
Jadi, sebenarnya tidak sulit untuk membuat bahan ajar berbasis multimedia. Pada tahap awal, tak perlu menggunakan software yang rumit dan membutuhkan kapasitas file besar. Sesuai dengan perannya, yang terpenting dari multimedia adalah terjadinya proses interaktif dan memberikan kemudahan umpan balik Ekspresi ide dan unsur hiburan diperlukan, tapi harus tetap dalam kerangka kurikulum yang ada. Sedikit kemampuan komputer, ditambah (kalau memungkinkan) ketrampilan penggunaan internet, sudah cukup bagi guru-guru untuk memvisualkan segala ide dan informasinya dalam bentuk bahan ajar yang inovatif.
Dengan bantuan multimedia, masalah yang menyangkut kebutuhan sumber belajar juga akan teratasi. Meskipun demikian harus tetap ada pemosisian yang tepat antara buku, sajian visual, maupun sumber belajar yang lain. Tidak semua target pembelajaran dapat terpenuhi oleh bantuan multimedia, pun sebaliknya. Pemilihan bahan belajar secara bijak akan membuat proses belajar mengajar berlangsung efisien dan efektif, menyenangkan, dan memotivasi siswa untuk mengeksplorasi pengalamannya sendiri.
Apapun media yang digunakan, jangan sampai ”mematikan” karakteristik siswa yang sudah terbentuk. Jangan sampai dengan penggunaan multimedia, siswa yang sudah memiliki kelebihan dalam mengembangkan ruang imaji non-visual (baca: kutu buku), secara mendadak disulap menjadi karakter yang sebaliknya. Takutnya , siswa yang dibiasakan ”alergi” pada buku akan menjadi siswa yang sulit melatih konsentrasi dan fokus, bahkan lebih parah bisa memperlemah analisa dan struktur berpikirnya.
Sebaliknya secara optimis, dengan pembelajaran berbasis multimedia, memberi kesempatan pada siswa untuk mengeksplorasi kemampuannya. Visualisasi dengan multimedia harus bisa memberi banyak kebebasan kreasi bagi siswa untuk menciptakan ruang imaji sesuai keinginannya. Dengan demikian, sajian multimedia tidak hanya memberi label ”kreatif" pada guru sebagai pembuatnya, namun juga bagi siswa sebagai penikmatnya.
Yang lebih penting lagi, bahwa keberhasilan penggunaan multimedia sebagai sumber belajar alternatif perlu didukung semua pihak, mulai siswa sebagai subyek belajar sampai penentu kebijakan setempat. Bahkan bila perlu melibatkan pihak luar untuk memfasilitasi pengembangan multimedia. Agar tidak salah sasaran, harus ada levelling terhadap keberadaan perangkat multimedia pada setiap satuan pendidikan. Setelah itu barulah diberikan bantuan klinis sesuai kebutuhan, yang diperlukan hardware, software ataukah brainware-nya.
Siapkah SMA anda menjadi Sekolah Berbasis ICT ?
- Cak Ali's blog
- Silakan login atau daftar dulu untuk mengirim komentar
kalau tidak memungkinkan, mendingan diconvert dulu ke format yg mudah dan universal. soalnya, kalaupun bisa diembed di kompi kita, ntar di kompi orang yang tidak terinstall software itu ( atau yang spec ppointnya gak sama), movie nggak bisa tampil. Ya kapan2 ae nek aku nang suroboyo tak mampir .... belajar bareng. yekopo ??

Penguasaan software memang sangat dibutuhkan sebagai salah satu skill guru untuk pengembangan sekolah berbasis ICT. Mungkin cak Ali tahu software untuk menyisipkan file jar applet ke dalam powerpoint selain dapat diakali dengan hyperlink. Terimakasih.