Sambutan Direktur Pembinaan SMA (http://psb.dikmenum.go.id/ atau http://www.psb-psma.org/)

Avatar soripada

http://www.psb-psma.org/files/tinymce/images/sungkowo.pngPendidikan yang bermutu merupakan harapan dan dambaan seluruh masyarakat Indonesia sebagai wahana untuk menghasilkan sumberdaya manusia bermutu yang mampu bersaing secara global. Namun demikian diakui bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan langkah-langkah perbaikan secara kongkrit dan operasional secara terus menerus dan berkelanjutan. Perlu diketahui dalam upaya mewujudkan pendidikan yang bermutu memerlukan strategi dan kerjasama dari berbagai pihak terkait dengan didukung oleh kebijakan yang tepat baik ditingkat pusat maupun daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Kerjasama antar sekolah untuk melakukan percepatan pencapaian pendidikan yang bermutu perlu dibangun dan difasilitasi sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan mutu pendidikan khususnya dalam hal kemampuan peserta didik, kompetensi guru, sarana prasarana, dan aksesibilitas informasi.

Salah satu langkah kongkrit peningkatan mutu pendidikan adalah pemberdayaan sekolah agar mampu berperan sebagai subyek penyelenggara pendidikan dengan menyajikan pendidikan yang bermutu. Sekolah diberi kewenangan dan peran yang luas untuk merancang dan melaksanakan pendidikan sesuai dengan potensi dan kondisinya masing-masing dengan tetap mengacu pada standar minimal yang ditetapkan Pusat melalui Standar Nasional Pendidikan (SNP). Implementasi dari pemberdayaan dan peningkatan peran sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kewenangan sekolah untuk mengembangkan kurikulum dalam bentuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sesuai dengan potensi dan kondisinya, sekolah dapat mengembangkan kurikulumnya dengan tetap mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh BSNP. Kewenangan tersebut memberikan peluang sekolah untuk berinovasi, berkreasi dan berkompetisi menampilkan kemampuannya dalam menyajikan pendidikan yang bermutu.
Ujung tombak keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah peran guru di dalam melaksanakan pembelajaran. Guru, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya harus diberi ruang untuk berkreasi, berinovasi dan berkolaborasi untuk melaksanakan pembelajaran yang bermutu. Tidak sedikit guru yang mempunyai potensi dan kemampuan untuk mengembangkan pembelajaran, namun masih banyak pula guru yang mempunyai keterbatasan dan kendala. Kondisi tersebut terjadi salah satunya karena faktor kendala lokasi sekolah dan komunikasi. Hal tersebut dengan mudah dapat dipahami karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang penyebaran lokasinya relatif berjauhan. Di samping itu pada masa yang lalu sistem komunikasi masih sangat terbatas. Oleh karena itu, maka kemampuan, potensi, dan permasalahan guru dalam mengembangkan pembelajaran perlu dikelola secara tepat agar secara nasional terjadi interaksi antar guru dalam pengembangan pembelajaran.
 
Pada era informasi dan komunikasi saat ini, kendala lokasi dan komunikasi tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk tidak segera bangkit mempercepat pencapaian pendidikan yang bermutu. Teknologi informasi telah menyediakan perangkat keras dan perangkat lunak dalam bentuk komputer yang dapat membantu guru menyiapkan dan menyajikan pembelajaran lebih tepat, cepat, dan menyenangkan. Teknologi komunikasi telah menyediakan sarana bagi sekolah di seluruh Indonesia untuk saling berbagi dan memberi satu dengan lainnya secara cepat melalui fasilitas internet. Pemanfaatan teknologi tersebut di sekolah perlu dipercepat, didorong, difasilitasi dan diperluas hingga menjangkau seluruh sekolah dipelosok tanah air. Guna memfasilitasi kondisi tersebut, Dit. Pembinaan SMA telah menetapkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai ikon peningkatan mutu pendidikan di SMA. Sejak tahun 2003, Dit. Pembinaan SMA telah merintis pengembangan TIK di sejumlah sekolah melalui program bantuan pengembangan perangkat komputer, lomba bahan ajar berbasis TIK, peningkatan kemampuan guru dalam pengembangan bahan ajar dan bahan ujian berbasis TIK, dan supervisi serta IHT pengembangan TIK di sekolah.
 
Berdasarkan pengamatan di lapangan, laporan sekolah dan hasil supervisi pengembangan bahan ajar dan bahan ujian berbasis TIK yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005 di sejumlah sekolah yang mengikuti program pengembangan dimaksud, diperoleh gambaran umum bahwa kemauan dan kemampuan guru SMA untuk memanfaatkan TIK sangat tinggi. Salah satu Indikatornya adalah sekolah secara mandiri terus memperluas jumlah dan meningkatkan kemampuan guru dibidang TIK, menambah fasilitas, mengembangkan bahan ajar berbasis TIK, dan membangun situs (website sekolah). Namun demikian masih ditemukan berbagai permasalahan pemanfaatan TIK di sekolah dalam pengembangan website sebagai sarana komunikasi dan sumber belajar diantaranya adalah:
  1. Konsep dan agenda program belum tersosialisasikan dengan baik dan belum mendapat porsi penting.
  2. Tenaga yang telah dilatih dalam bidang TIK belum dimanfaatkan secara optimal.
  3. Desain web dan pengelolaannya belum dikerjakan secara profesional.
  4. Bahan ajar dan bahan ujian berbasis TIK yang telah dihasilkan guru melalui kegiatan workshop belum dilakukan updating secara kontinyu, di satu sisi aktifitas/inti dari sebuah situs e-Learning adalah bahan ajar yang dinamis baik dari segi substansi maupun tampilan.
  5. Guru dan praktisi yang memiliki kemampuan mengembangkan bahan ajar berbasis TIK belum termotivasi untuk memberikan kontribusi dalam mengisi substansi website yang tersedia secara kontinyu.
  6. Belum ada penghargaan, income atau side effect dari keaktifan mengelola dan mengembangkan bahan ajar berbasis TIK.
Di lain pihak, para guru dalam berbagai kesempatan baik melalui telpon, sms, email, surat dan usulan lisan sangat menghendaki adanya keberadaan forum komunitas TIK seluruh guru mata pelajaran di SMA melalui website. Dengan harapan melalui website dapat terbangun saling tukar informasi, pengalaman, masalah, bahan ajar dan sebagainya bagi semua guru mata pelajaran. Mempertimbangkan potensi dan kemauan sekolah, dan semangat para guru untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMA melalui wahana TIK tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA perlu menghimpun potensi yang dimiliki sekolah dan para guru tersebut dengan memfasilitasi pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB)/Learning Resource Center (LRC) secara nasional, antara lain melalui pembelajaran berbasis web (Web Based Learning/WBL).
 
Situs dapat di akses melalui : http://psb.dikmenum.go.id/ atau http://www.psb-psma.org/
 

 

Galeri

Anggota Baru

Darmo
EKO PARMINTO
Badaruddin S.Pd
anaksmandak
Nyimas Ratih
FITRI_A
Mohammad Fadel Satriansyah
khalieqs
gunawan guru
Kojiun
zharfan_reidan
suharyanto