Blog Marsito

Avatar Marsito

Anak Sesat

Ada Seorang anak kecil, anak ini amatlah cerewet.

 

                Pada suatu hari, anak ini bertanya kepada ibunya.
Anak      : "Bu, Monyet tuh apa sih Bu..?"
Ibu         : "Oh, Monyet tuh kayak pak RT" (Sang ibu sedang kesal sama pak RT)
Anak      : "Oh, gitu ya, Bu.."

Sorenya...
Anak      : "Pak..bapak"
Bapak    : "Ada apa, nak?"
Anak      : "Pantat emak lo apaan sih, pak?"
Bapak    : "Tuh..."(sambil menunjuk dandang yang  item, sambil tertawa)
Anak      : "Oh..."(Mengerti dengan sangat)

Avatar Marsito

Workshop TOT PJP dan Fasilitator Region V

19 Juli s/d 23 Juli 2010 di hotel Madani Medan, Dit.PSMA mengadakan workshop TOT PJP dan Fasilitator kepada guru, pengawas dan pejabat dinas pendidikan prov. Sumut dan NAD dan sebagian Kepri. Luar biasa, peserta sangat antusias, apalagi ketika berinternet ria. Selamat kepada teman-teman di Region V, juga kepada penyelenggara dan fasilitator. Semoga semangat hari ini membantu mengantarkan pendidikan kita ke jalan yang benar.

Selamat dan sukses.

Avatar Marsito

Hasil UN SMA Negeri 1 Galang

Terlambat, tapti masih lebih baik. Ujian Nasional 2010 telah diumumkan. Sebagian besar siswa bersorak kegirangan dan tidak sedikit siswa merunduk lesu, sedih, perih mengetahui dirinya gagal dalam UN. Merata hampir di banyak sekolah walaupun jumlahnya tidak banyak, tidak terkecuali di SMA Negeri 1 Galang Kabupaten Deli Serdang. Peserta Ujian IPA sejumlah 71 orang 1 orang gagal mata pelajaran Bahasa Indonesia dan 91 peserta ujian IPS 4 orang gagal mata pelajaran Sosiologi. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga untuk instrospeksi diri bagi siswa dan sekolah. Mari kita tinggalkan sejenak tentang hasil UN yang menjadi salah satu sebab anak-anak stres. UN selalu menimbulkan pro dan kontra. Pelaksanaan UN diatur  dan dibenarkan menurut Undang-undang. Jadi tidak benar kalau ada anggapan segelintir orang yang menyatakan UN bertentangan dengan Undang-Undang. Hanya saja memang "kurang adil" kalau hasil UN disamaratakan kepada seluruh peserta didik yang belum tentu membutuhkan keseluruhan hasil UN dengan nilai seperti yang disyaratkan. Mengapa pemerintah tidak mencoba merumuskan format baru UN. Penulis berpendapat UN diperlukan hanya bagi yang membutuhkan, artinya UN sebaiknya dibuat seperti pola Ujian Negara Cicilan pada PTS beberapa waktu lalu, Sekolah cukup memberikan Surat Keterangan Telah Menamatkan Pendidikan pada tingkat SMA/ sederajad, selanjutnya anak-anak sendiri yang memilih apakah mengikuti UN atau tidak. Dengan cara ini, kiranya kredibilitas UN akan terangkat karena hampir pasti kecurangan akan dapat ditekan sedemikian rupa. Wasalam.

Avatar Marsito

UN Selayang Pandang

Ujian Nasional tingkat SMA/SMK baru saja usai. Hasil baru akan diumumkan satu bulan ke depan. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana UN berlangsung dan apakah masih meninggalkan persoalan ? Jika kita cermati berita seputar UN baik di media cetak maupun elektronik, sampai hari ini berita UN masih mewarnai berbagai pusat pemberitaan, yang walaupun UN sudah usai, namun persoalan yang ditinggalkan belum juga selesai. Ironisnya, persoalan hari ini juga nerupakan persoalan-persoalan "warisan" UN setiap tahunnya. Mengapa persoalan beberapa tahun lalu muncul hari ini, apakah persoalan yang lalu hilang bersamaan dengan bergulirnya waktu tanpa penyelesaian menyeluruh ? Jika keadaan ini terus berlarut-larut, maka pendidikan Indonesia akan sulit menemukan jatidirinya. Diperlukan kerja keres dari Kementrian Pendidikan Nasional untuk meyelesaikan secara tuntas persoalan yang diwariskan pasca UN, sehingga pada pelaksanaan UN ke depan (jika masih ada) atau apapun namanya berlangsung dengan baik, memberikan manfaat yang besar bagi pendidikan, mendorong peserta didik untuk berprestasi dan mendidik masyarakat pendidikan di Indonesia.

Avatar Marsito

Kecemasan Menjelang UN

Ujian Nasional, menjadi issue yang hangat untuk disimak dan diperbincangkan, mulai dari proses yang panjang (3 kali Permendiknas tentang UN direvisi) sampai pada pelaksanaan UN yang sudah semakin mendekat. Seluruh unsur yang terlibat dalam proses pendidikan mulai was-was, akankah ada hambatan dalam pelaksanaan UN nantinya, atau berjalan lancar dan "mendulang sukses" tapi banyak issue di dalamnya, atau bahkan gagal sama sekali baik hasil maupun proses ? Semua itu sangat terkait dengan komitmen dari segenap pengelola pendidikan termasuk di dalamnya masyarakat. UN sudah dipersiapkan sejak jauh hari, namun hambatan sangat mungkin terjadi. Lima hari menjelang UN, berbagai issue muncul yang senantiasa menghantui calon peserta UN yang bahkan dapat menggoyahkan keyakinannya akan keberhasilan yang diraih secara terhormat bagi anak-anak yang memang mempersiapkan dirinya dengan sangat baik. Sedangkan bagi sebagian anak yang memang kurang dalam persiapan, tentunya ini dianggap sebagai solusi bagi dirinya dan merupakan jembatan "meraih sukses UN", walau dengan cara yang tidak terhormat. Pertanyaannya mengapa issue miring soal UN ini begitu menguat, apakah kepengawasan terhadap proses ( persiapan sampai pelaksanaan) yang dijanjikan tidak dapat terjaga dengan baik, atau memang semua itu hanya sebatas issue belaka dengan harapan dapat mendulang keuntungan dari kisruhnya pelaksanaan UN itu sendiri ? Sebagai seorang yang memegang komitmen dalam pendidikan sudah seharusnya kita "meluruskan" segala sesuatu yang membelokkan tujuan UN.

Galeri

Anggota Baru

Darmo
EKO PARMINTO
Badaruddin S.Pd
anaksmandak
Nyimas Ratih
FITRI_A
Mohammad Fadel Satriansyah
khalieqs
gunawan guru
Kojiun
zharfan_reidan
suharyanto

Sindikasikan konten